Dia dia Dia…

Di dalam proses pendewasaan diriku, ada 3 orang yang sangat berperan. Jika saja hidupku ini adalah sebuah drama, mereka ikut serta dalam menentukan setting, lokasi, pembentukan karakter, pembuatan properti, sampai proses casting utntuk menentukan pemeran-pemeran di dalamnya. Dan seandainya aku ini sutradaranya, mereka tidak perlu memohon untuk dijadikan pemeran utama di dalam ceritaku. Tidak perlu ada proses casting ataupun reading untuk mereka. Kenapa? Jelas karena mereka tahu setiap rincian ceritaku.. mereka tahu apa yang harus dikatakan jika situasinya begini.. apa yang harus dilakukan jika situasinya begitu.. Dulu, aku takut punya pacar. Aku takut, apa pacaku nanti bisa mengerti aku seperti mereka? Bisa sebaik mereka? Atau mampu berbagi dengan mereka? Dan ternyata.. ada yang sampai memohon untuk dijadikan sepenting mereka dihidupku.

Yang pertama adalah dia. Seorang seniman muda berbakat yang sangat sederhana dan rendah hati. Menurutku dia sangat misitis. Aku tidak pernah tahu isi hatinya, ya..karena memang aku sangat cuek dan tidak berperasaan. Aku sempat kaget waktu dia bilang kalau dia pernah ngambek gara-gara perkataanku. Bahkan aku sendiri gak tahu perkataan yang mana? Dia begitu sabar mengatasi sifatku yang moody, dan begitu pengertian mendengarkan keluhan-keluhanku yang kadang aku sendiri tahu penyelesaiannya. Aku tidak pernah menangis didepannya untuk membuatnya mengerti jika aku sedang sedih ataupun ada masalah. Karena dia selalu peduli tentang keadaan hatiku. Dia tahu, bahwa aku selalu memikirkan hal-hal yang ga penting yang membuat pusing sendiri. makanya, dia selalu mengucapkan ”semoga berbahagia” untuk mengiringi setiap langkahku mengisi hari. Satu hal yang paling aku ingat adalah ketika dia rela belajar membuat wayang suket untuk membantu program KKN ku di sebuah desa yang cukup jauh dari tempatnya tinggal. Walaupun akhirnya gak berhasil juga, tapi kerelaannya datang dan bermain dengan anak-anak desa itu, sungguh membuatku terharu.

Yang kedua adalah Dia. Seorang pria cerdas dan sangat tertata kehidupannya. Pertama kenal dengannya, aku kaget bahwa ternyata ada orang yang merencanakan kegiatannya dari mulai bangun sampi kemudian memejamkan mata. Waaah… Dibalik sifatnya yang kekanak-kanakan, ada hati yang sangat bijaksana yang selalu siap menasehati aku yang absurd ini. Kadang begitu merasa tidak berarti saat bersamanya, pemikirannya tentang hidup jauh dari apa yang bisa aku mengerti. Tapi dia yang paling bisa mengerti setiap kebodohan yang aku lakukan. Dulu, dia begitu concern mengomentari detail pakaian yang aku kenakan setiap hari. Biasanya dia berkomentar begini ”ih,, ver,, kamu kok pake itu sih? Celanamu itu lho.. bikin tambah ndut” atau ”nah,, kamu tuh lebih bagus pake itu..gitu doonk tiap hari” aku jadi kangen logat jawanya ketika dia begitu bersemangat bercerita tentang kisah demi kisah dihidupnya. Aku tidak tahu apa dia ingat sebuah janji tentang buku harian yang akan selalu terisi ketika dia mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang. Kami berjanji untuk mengisi buku harian yang akan ditukarkan supaya tidak ada satu cerita yang terlewatkan di setiap hari yang kami lalui. Sampai sekarang, tidak ada lagi perbincangan tentang itu.

Dia Ketiga adalah seorang pria dangan perawakan yang besar, suara yang besar, namun tidak sekuat seperti yang terlihat dari fisiknya. Dia..keras kepala, kadang kekanakan, tapi sangat perhatian. Dengannya aku merasa sebagai orang yang begitu penting. Tak jarang setiap kejadian penting yang terjadi dengannya, aku adalah orang yang pertama tahu. Aku bisa merasa begitu berarti ketika aku mampu memberikan nasehat-nasehat tentang permasalahan yang dia hadapi. Dan dia adalah orang yang tahu setiap detail kisah hatiku ketika aku merasa ragu untuk menceritakan kepada dia yang kedua. Hal-hal yang begitu ringan dan bodoh, terutama soal hati.. rasanya malu untuk diceritakan kepada Dia Kedua.. J Dia ketiga, adalah seorang kakak buatku, aku tidak ragu untuk memeluknya ketika kami lama tidak bertemu. Menjadi pacar dia ketiga, harus rela berbagi denganku. Kadang kami menghabiskan malam minggu bersama, terutama karena aku lebih sering menjomblo. Pacar-pacarnya, harus rela menunggu sebentar sebelum Dia ketiga datang menjemput. Aku ingat ketika kami naik motor menuju tempat doa di atas Magelang sana. Ketika itu hujan, dan kami tidak tahu jalan. Tapi kami tetap bahagia. Waktu itu aku berdoa untuk ayahku yang sedang sakit. Dia berdoa untuk setiap permasalahan di hidupnya.. aku rindu kata-kata ”apa kabar dek?” yang setiap minggu selalu dikirimkannya.

Aku menyayangi mereka… walaupun aku merasa tidak mampu berbuat banyak untuk mereka. Aku. Yang seperti anak kecil ini, seperti yang selalu merengek dan minta dimanja oleh mereka. Dan syukurnya.. mereka tidak pernah bosan dengan itu. Dulu. Sekarang… dengan dia Pertama, aku masih terus berhubungan, walaupun Cuma lewat dunia maya. Dia menjadi orang yang masih selalu aku andalakan dalam setiap keputusan yang aku ambil. Kadang suka ngambek juga dengannya, tapi Cuma ngambek, gak pernah lebih. Karena dia, aku merasa memiliki sandaran jika suatu saat nanti aku harus beristirahat.

Dia Kedua.. semakin menjauh.. aku tahu, dia sangat sibuk.. terutama dikota ini. Situasi seperti tidak mendukung untuk saling bertemu muka. Tapi aku mengharapkan kami bisa menyapa walaupun hanya lwt email atau sms. Aku kangen omelannya ataupun kejayusannya. Pernah kami janjian untuk bertemu.. tapi dengannya segala rencana itu lebih sering berakhir dengan kejayusan. Seperti mendorong mobil mogok, atau malah gak jadi sama sekali. Aku bingung, harus seperti apa memulai hubungan sehingga bisa terjalin seperti dulu. Yang tanpa rasa canggung mengajak makan malam, merencanakan main remote control atau layangan, berkunjung ke rumah teman untuk numpang makan.. atau sekedar iseng berjalan tanpa tujuan. Aku kangen keakraban yang terjalin lewat sms atau telpon. Entahlah, apa mungkin kerena salahku juga.. yang enggan memulai. Atau aku yang terlalu sibuk dengan diriku sampai-sampai lupa dengan orang lain?

Dia ketiga.. tak pernah terdengar kabar selama 9 bulan ini. Sejak sibuk bekerja, kami seolah berjarak. Pernah aku mengajaknya ikut serta tahun baru bersama. Sayangnya, dia lagi sakit. Setelah itu.. sunyi. Aku tidak tahu apa yang terjadi di hidupnya, bagaimana dia melewati harinya.. apakah dia tambah kurus…? aku merindukannya.. suara tawanya yang besar.. caciannya tentang ke jayusanku..dan semua ceritanya yang membuatku merasa harus melakukan sesuatu untuknya.

Sepertinya kesunyian ini memang terjadi karena aku. Aku ni emang terlalu egois dan narsis. Maunya di telpon duluan, di sms duluan..hiks… Kayaknya aku terlalu sibuk bekerja di industri keparat ini sehingga lupa dengan mereka. Tapi aku juga bingung harus memulai dari mana? Seolah-olah hubungan yang dulu terjalin begitu akrab hilang begitu saja.

Kemarin malam, ketika melangkah pulang.. aku merasa begitu sendiri. Aku merasa seperti tidak memiliki tempat tujuan. Merasa tidak memiliki seseorang.. Aku kangen berbagi dengan orang-orang yang aku sayang. Hanya saja.. aku bingung memulai dari mana? Memang, di keadaan sekarang ini ketika semua orang sibuk akan masa depan dan kebutuhan bertahan hidup, kita harus rela berbagi. Dituntut kebijaksanaan lebih untuk itu. Tapi sungguh, aku kangen sebait dua bait sms yang mengingatkan untuk makan, untuk istirahat.. ataupun saling mendoakan dan merencanakan waktu untuk saling berbagi…..

Apakah wajar jika aku menanyakan.. dimana kalian?dan dimana aku?

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.