Hujan dan pelangi

Malam ini perjalanan kerumah sedikit berbeda. Sebetulnya bisa saja aku memutuskan untuk menginap di tempat Faris atau dian, tapi dorongan untuk pulang begitu kuat. Aku ingin mengenang lebih dari 2 tahun lalu, aku terbiasa diantar oleh si hitam berkeliling kotamu. Si hitam yang begitu setia menemani, sampai kemudian hilang tanpa jejak, ketika adikku sedikit sembrono meninggalkannya di halaman sepi. Mungkin saat ini sudah tak utuh lagi badannya, diserahkan pada penadah yang tak mengerti begitu berharganya dia untukku. Setelah hitam, hadir sikuda biru yang tak kalah tangguh. Lebih cepat dan halus bunyinya. Ada perasaan bangga saat melaju dengannya. Aku percaya, dia sanggup mengantarkanku selamat kemanapun aku mau.

Perjalanan di kota ini tidak senyaman di kotamu. Disini penuh dengan tantangan. Harus berani menyalib, sama seperti kehidupan disini, yang cepatlah yang menang. Jika lambat, maka pusing dibuatnya karena klakson yang tak henti-hentinya terdengar. Membuatmu bingung dan terburu-buru mengambil langkah. Salah sedikit saja, bisa terjatuh, dan tak ada yang mau menoleh untuk mengulurkan tangan. Tidak seperti dikotamu, yang begitu ramah mengijinkan siapapun melewati sudut-sudutnya yang bersahabat. Aku tetap melaju meskipun hujan semakin deras. Kepalang tanggung. Aku rasakan dinginnya menyesapi kulitku. Tak sedingin dan seharum udara kotamu , yang perlahan-lahan berubah dari aroma pasir menjadi aroma dedaunan yang nikmat. Berangsur-angsur mengantarkanku dari selatan ke utara. Aku rindu damainya, walapun dingin begitu kuat memeluk, namun tidak pernah sedikitpun rasa nyaman meninggalkanku.

Biasanya aku akan protes jika hujan mengiringi perjalanan. Kali ini aku terima dengan ikhlas. Begini rasanya diguyur hujan ketika hati ingin segera berkumpul dengan suasana nyaman rumah bersama orang terkasih seusai lelah bekerja. Jika saja aku mampu menangis lirih saja, pasti tak akan ada orang yang bertanya kenapa. Dua lapis kaca sudah cukup menutupinya. Apalagi semua orang disini sudah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Aku mencoba berfikir hal-hal yang bisa membuatku menangis. Tetap tidak ada.

Masih beberapa km lagi. Sudah sejauh ini potongan-potongan kenangan tentang kotamu temani perjalanan ini. Aku ingat, pernah ada dua orang berjalan perlahan menuntun ban motor kempes di sepanjang ring road utara. Juga ada dua perempuan mengaduh kesakitan akibat terjatuh dari motor ketika hujan. Tapi yang paling aku rindu adalah ketika bersamamu, menepi dipinggiran kota gede, sehabis perjalanan entah yang membuat kehilangan begitu terasa.

Aaah, aku rindu perajalanan malam menuju kali adem. Aku juga rindu petualangan kita ke Sundak. Aku menantikan canda dan tawa itu, yang selama 2 tahun ini hilang dari hidupku. Entah kapan kotamu dapat membawa lagi potongan-potongan kenangan itu menjadi nyata. Hingga jiwa ini tak lagi haus dan hampa. Mungkin, setelah nanti ada jiwa baru yang menemani masing-masing kita, kita masih diijinkan untuk kembali merajut kenangan yang sempat hilang. Karena itu yang membuat hidup kembali utuh…

Kangen kalian tim suntiq……. huhuuhu….

Advertisement

2 Responses to “Hujan dan pelangi”

  1. lamanday Says:

    aku sering bertanya ke teman2 yang pernah tinggal di jogja: pernahkah melihat pelangi yang indah di jogja?
    hampir semuanya menjawab, tidak pernah.

    juga bertanya kepada mereka yang lalu ketika tamat bekerja ke jakarta: pernah melihat awan-awan yang berbentuk indah di jakarta?
    jawabannya juga tidak.

    padahal, hujan juga turun di jogja, dan di atas jakarta selalu ada awan.

  2. hujandanpelangi Says:

    hmmm…iya yah..hhehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.